Business Plan Vs Business Model Canvas, Mana yang Lebih Cocok untuk Memulai Usaha?


Memiliki usaha sendiri adalah dambaan setiap orang. Anda pasti akan rela bekerja hampir 24 jam 7 hari demi membangun mimpi Anda sendiri. Bisa dilihat, banyak figur sukses yang datang dari kalangan tokoh besar maupun dari orang-orang yang ada di sekitar Anda. Hal ini bisa menjadi motivasi tersendiri untuk mengikuti jejaknya. Jika mereka bisa, Anda pun bisa. Namun, berbisnis tak seindah yang dilihat. Dibalik hasil yang luar biasa, ada proses yang penuh pengorbanan dan perjuangan pahit manis hingga jatuh bangun yang harus dilewati. Terlepas dari para pengusaha yang memang punya privilege dalam mendukung proses kesuksesan usahanya, di sisi lain cukup banyak pula pengusaha sukses dengan latar belakang ‘nol’ sehingga menempatkan diri mereka sebagai bagian dari from zero to hero club.

Coba perhatikan beberapa kalimat motivasi yang datang dari pengalaman para pengusaha sukses yang juga mengalami berbagai fase jatuh bangun dalam merintis usaha:

Risiko terbesar adalah tidak mengambil risiko sama sekali. Dalam dunia yang berubah dengan sangat cepat ini, satu-satunya strategi yang dijamin gagal adalah tidak mengambil risiko”. -Mark Zuckerberg, CEO Facebook.

Saya percaya bahwa hampir setengah hal yang membedakan pengusaha sukses dengan mereka yang tidak hanyalah ketekunan (kegigihan)”. – Steve Jobs,  CEO Apple Inc.

Tidak bekerja setengah-setengah, apabila telah memulai suatu usaha maka kerjakanlah dengan serius. Jangan sampai berhenti di tengah jalan karena akan menyia-nyiakan harta, tenaga, waktu yang telah kita kerahkan untuk memulai bisnis.”. – Bob Sadino, Pemilik jaringan usaha Kemfood & Kemchick.

Bagaimana.. lebih termotivasi untuk membangun usaha? Yuk langsung eksekusi. Langkah paling fundamental dalam memulai usaha adalah membuat perencanaan.


BUSINESS PLAN VS BUSINESS MODEL CANVAS

Mungkin Anda pernah mendengar konsep Business Plan. Dalam konsep Business Plan dijelaskan bahwa untuk membangun sebuah bisnis maka akan melewati tahapan berikut:

Ide -> Rencana Usaha -> Pelaksanaan Ide/Kompetisi -> Membangun Usaha

Ini adalah konsep bisnis yang sebenarnya sudah lama ditinggalkan oleh para pengusaha dalam memulai bisnisnya. Mengapa demikian? Karena Business Plan memiliki kecenderungan lebih detail namun tidak tahan dengan perkembangan zaman dengan segala konsekuensi kemajuan teknologi. Sehingga banyak yang gagal setelah mempraktikkannya.

Kemudian muncul Business Model Canvas (BMC), sebuah konsep bisnis yang dikembangkan oleh Alexander Oserwalder yang dipopulerkan dalam bukunya berjudul Business Model Generation untuk membantu para pengusaha memulai usaha dengan jalan pemetaan, analisis, validasi dan inovasi terhadap model bisnis mereka. Business Model Canvas kini telah banyak dipilih dan digunakan para pengusaha dari perusahaan besar dan terkemuka serta pengusaha startup untuk memulai usaha karena Business Model Canvas memiliki 3 keunggulan utama, yakni: lebih fokus, fleksibel, dan transparansi.


9 KUNCI UTAMA PENDORONG KEBERHASILAN USAHA PADA BUSINESS MODEL CANVAS (BMC)

  1. Customer Segments
    Target konsumen yang dapat dibagi menjadi berbagai segmen sesuai kebutuhan.
    Misalnya: siapa konsumen Anda, bagaimana karakteristik mereka (usia, jenis kelamin, status ekonomi dan sosial), apa yang mereka pikirkan dan rasakan, apa masalah yang mereka alami.

  2. Value Proposition
    Nilai jual produk/jasa Anda yang menjawab kebutuhan konsumen dan dapat menjadi solusi atas permasalahan konsumen.
    Misalnya: solusi apa yang Anda tawarkan pada konsumen, apa yang menarik dari solusi Anda dibanding kompetitor.

  3. Customer Relationship
    Pendekatan pada konsumen dengan berbagai cara.
    Misalnya: pendekatan secara personal seperti by phone, maupun secara umum seperti memberikan tips yang masih relevan dengan produk/jasa Anda.

  4. Channels 
    Tempat dimana Anda mendekati atau menemui konsumen.
    Misalnya: event atau seminar, media sosial.
     
  5. Key Activities
    Aktivitas usaha yang dijalankan sehari-hari untuk dapat memberikan solusi pada konsumen.
    Misalnya: distribusi produk/jasa, operasional pelayanan.

  6. Key Resources
    Sumber daya dan aset yang tepat untuk mendukung aktivitas usaha.
    Misalnya: karyawan, ruang kerja, kendaraan operasional, peralatan kantor. Pilih karyawan yang bermutu, serta pilih peralatan pendukung usaha yang berkualitas.

  7. Key Partnership
    Partner kerja yang dapat membantu Anda dalam memberikan solusi pada konsumen.
    Misalnya: supplier, agency.

  8. Cost Structure
    Skema finansial untuk membiayai operasional perusahaan.
    Misalnya: gaji karyawan, biaya promosi, biaya sewa gedung usaha, iuran listrik, pembelian peralatan pendukung usaha. Dalam hal pembelian peralatan pendukung usaha sebaiknya pilih yang harganya terjangkau namun memiliki kualitas istimewa agar dapat membantu menghemat cost structure. Beberapa peralatan pendukung usaha yang paling umum digunakan adalah barcode scanner, mesin kasir elektronik, dan smart alarm. Pastikan pilih dari brand terkemuka yang telah teruji kualitasnya.


  9. Revenue Streams
    Berbagai sumber pendapatan perusahaan.
    Misalnya: hasil penjualan, dividen.


Kesembilan poin ini harus ada dalam Business Model Canvas Anda. Kesemuanya saling berkaitan dan memberikan pengaruh satu sama lain. Business Model Canvas juga dianggap lebih fleksibel dan tahan pada perkembangan zaman karena memiliki sifat yang dinamis dan adaptif.

Yuk segera mulai usaha.. Bangun Bisnis Model Canvas Anda dengan dukungan aneka peralatan dari Kanasecure yang teruji kualitasnya dan sesuai kebutuhan usaha masa kini.

Share this info